Member-only story
Belajar dari Dot-com 2000: Mengapa Web3 Butuh 20 Tahun Lagi untuk ‘Matang’?
Oktavian Aji3 min read·Just now--
Gue baru sadar, kita ini sebenernya lagi hidup di tengah-tengah salah satu komedi putar terbesar dalam sejarah teknologi.
Di satu sisi, ada orang-orang yang teriak kalau Web3 itu revolusi kemerdekaan digital. Di sisi lain, kalau lu buka medsos atau grup Telegram, isinya cuma orang pamer cuan dari koin gambar anjing atau kodok. Kadang gue mikir, ini kita beneran lagi ngebangun masa depan internet, atau cuma lagi ngebangun kasino global yang buka 24 jam dengan rebranding yang lebih keren?
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya kita butuh sedikit perspektif sejarah biar nggak gampang stres liat harganya yang naik turun nggak karuan.
Antara Rebranding dan Realita
Jujur aja, istilah “Web3” itu sebenernya sebuah rebranding yang pinter banget. Dulu orang nyebutnya “Crypto”, tapi karena citranya udah telanjur buruk gara-gara banyak scam, dipoleslah jadi Web3.
Tujuannya? Ya biar modal (capital inflow) mau masuk lagi. Biar institusi besar nggak malu naruh duit di sana. Dan ini perlu, sih. Masalahnya, jargon yang keren sering banget nutupin fakta kalau teknologi ini tuh masih prematur banget. Masih berantakan.